Chairul Tanjung, Yahudi atau Mason?

Saya tertegun, postingan saya soal kegemaran Chairul Tanjung (CT) pada ikon Mason menduduki peringkat pertama ketika Anda mencari frase ‘Chairul Tanjung Yahudi’. Sungguh saya tidak berpretensi menduduki peringkat ini dan juga tidak berakhir menuduhkan keyahudian sang pengusaha yang baru saja merilis biografinya itu.
Soal yahudi atau tidaknya dia bukan domain saya menjawab. Yang saya persoalkan di tulisan di blog adalah kegemaran dia menggunakan simbol Mason—tarikat yang dekat dan memperjuangkan kepentingan zionisme.
Berawal dari diamnya CT secara konsisten dalam memampangkan ke publik logo-logo perusahaannya yang bejibun dengan ikon-ikon Mason, saya kemudian mengaitkan dengan beberapa rumor dan keresahan pemirsa televisi milik CT, Trans TV. Semua orang tahu, televisi ini selain banyak menyiarkan acara positif dan kaya terobosan, juga kerap konsisten menampilkan figur yang identik dengan Mason. Tidak ada stasiun televisi yang secara permanen memplot Steven Seagel untuk tampil di layar kaca sebagaimana Trans. Soal selera dan minat pemirsa yang ditangkap stasiun ini? Saya ragu.
Kegemaran CT menggunakan simbol Mason (piramida, segitiga, mata, bulatan) kalaulah dibuat prasangka baik, karena ia seorang Muslim, mungkin semata kegemaran dia. Ingat, CT sejak kecil bersekolah di tempat yang disangsikan mengenalkan Islam. Bahkan sebaliknya, lebih akrab dengan simbol-simbol Mason. Ber-SD dan SMP di Van Lith, serta SMA di Boedi Oetomo, kalau dari namanya saja sudah bisa menerbitkan sesak akan adanya penanaman tanpa sadar soal simbol. Di sekolahnya itu, CT boleh jadi telah familiar dengan piramida dan mata. Seakan semua normal, alamiah, bahkan bagian dari kenangan masa kecil nan indah selaku ‘anak singkong’.
Itu bila kita husnuzan. Sebagai pengusaha yang cerdas dan melek informasi, tentu kini CT tahu di balik makna ikon Mason. Kegemarannya menggunakan ikon Mason semestinya sudah dirasakan akan menerbitkan gejolak pada sebagian saudara seimannya yang peka soal ini. Keartistikan dan kesimetrisan ikon bernuansa Mason tidak perlu sampai menerbitkan gejolak di kemudian hari. Di titik ini, kekonsistenan (alih-alih mau mengubah) CT pada setiap ikon Mason dalam logo setiap usahanya melahirkan prasangka. Ada apa ini? Apakah rasa selera seni semata CT? Bagian dari masa kecil? Atau ada lebih jauh lagi: perselingkuhan diam-diam dengan para pemeluk Tarikat Mason?
Pembaca, pada titik ini saya tidak mau gegabah menyebut CT seorang Yahudi. Perlu dicek dari nasab orangtuanya, yang saya tahu ibunya Muslimah, pun ayahnya. Ke-Yahudi-an CT mungkin tudingan ideologis lantaran kegemarannya bersimbol Mason ria. Nah kalau kita lacak literatur, banyak tokoh Muslim bergabung di Tarikat Mason tidak serta-merta mereka beralih jadi Yahudi. Ini secara formalnya, kalau soal pikiran dan tindak-tanduk itu soal lain. Raden Saleh ambil kasus. Meski ia keturunan Arab (dan Muslim pula), ia bukan rahasia merupakan kader Mason awal di negeri ini.
Dalam konteks serupa, saya menduga kecerdasan CT dihasilkan dari cara belajar dia di komunitas tertentu. Dan itu yang kemudian membuatnya berterima kasih atau menjadikannya kelompok anutan. Bagi CT, sebagaimana Raden Saleh, mungkin bukan peralihan agama, karena semacam Tarikat Mason hanya bicara kesatuan agama-agama dan tidak fanatik pada agama tertentu. Padahal, Tarikat Mason yang sepintas sebuah organisasi sosial biasa saja sejatinya organ penting sarat kepentingan mahabesar di negeri ini.
Jadi, sampai di sini kita tidak bisa bergegas dulu menyebut dan menuding CT Yahudi. Dia tetap anak singkong kelahiran Jakarta dari keluarga Muslim. Bahwa di polahnya sekarang dia banyak gemar mengumbar ikon Mason, kita sebut dan waspada atraksi sosialnya. Buat siapa dan kepada siapa. Siapa tahu ia contoh orang semisal Raden Saleh yang dikendalikan dari luar sementara dalam dirinya penuh gejolak.
Sungguh kasihan kalau CT pun ada yang selalu mengarahkan sebagai pemasar ikon Mason, dan dia melakukannya. Bagaimanapun CT adalah aset bangsa. Tugas kita bukan meributkan isu Yahudi, tapi mengawasi seberapa jauh kiprahnya bagi bangsa dan saudara seimannya. Jangan sampai dia terus menyiarkan film antagonis soal Islam dan Arab; secara bersamaan, ia gelontorkah dana banyak ke Yerusalem diam-diam atas nama loyalitas pada ‘sang guru’. []
Credit: yusufmaulana.com

About Sustaindo - Sustainability Indonesia
Entrepreneurship NOW!. You can donate using credit card via Paypal. Here: https://www.paypal.com/cgi-bin/webscr?cmd=_s-xclick&hosted_button_id=W2472XU5QCJ9J Thank you

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: